KESYIRIKAN DI BULAN MUHARRAM
Ada sebagian kaum muslimin yang berkeyakinan bahwa bulan Muharram adalah bulan sial, bulan yang mendatangkan kesialan dan kebuntungan.
Maka merekapun takut untuk mengadakan berbagai macam acara, karena kesialan yang mereka kawatirkan akan menimpa mereka.
Mereka tidak akan mengadakan akad pernikahan, tidak akan bepergian, tidak akan pindah rumah, dan berbagai macam acara yang lainya.
Mereka juga berkeyakinan bahwa arwah leluhur akan pulang ke rumah, serta banyaknya makhluk halus yang bergentayangan.
Jika dicermati, bahwa sebagai perkara-perkara tersebut, adalah perkara-perkara ghaib, perkara-perkara yang tidak mengetahui hakekatnya kecuali Allah semata.
Ulama telah menjelaskan bahwa termasuk kesyirikan besar, yang bisa mengeluarkan pelakunya dari agama, adalah mengklaim dirinya atau orang lain mengetahui perkara ghaib.
Karena hal tersebut merupakan bentuk menyekutukan (menyamakan) Allah dalam salah satu sifatNya, yaitu mengetahui perkara ghaib. Klaim mengetahui perkara ghaib berarti sudah menyamakan Allah dalam sifat tersebut.
Karena hanya Allahlah yang berhak mengetahui perkara ghaib.
Allah berfirman,”
قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ ۚ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ [النمل : 65]
Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.”(QS. An-naml 65).
إِنَّمَا الْغَيْبُ لِلَّه
“Sesungguhnya yang ghaib itu kepunyaan Allah,”.(QS. Yunus 20).
وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri..”.(QS. Al-an’aam 59).
قُل لَّا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ [الأعراف : 188]
Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan”.(QS. Al-a’raaf 188).
قُل لَّا أَقُولُ لَكُمْ عِندِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ
Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepada kalian, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku”.(QS. Al-an’aam 50).
Maka barang siapa yang mengklaim dirinya atau orang lain mengetahui perkara ghaib, ia telah terjatuh ke dalam kesyirikan besar, yang bisa mengeluarkanya dari islam.
(Tashiilu aqidah islamyiah, 91).