Syarat-syarat diwajibkannya puasa kepada seseorang.

  1. muslim.

Orang kafir tidak diperintahkan kepada mereka untuk berpuasa.

{قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَنْتَهُوا يُغْفَرْ لَهُمْ مَا قَدْ سَلَفَ} [الأنفال: 38]

Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu;

  • Baligh.

Rasulullah bersabda,”

وَعَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ: عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَبْلُغَ وَعَنِ الْمَعْتُوهِ حَتَّى يعقل “. رَوَاهُ التِّرْمِذِيّ وَأَبُو دَاوُد

Dari Ali bin abi tholib, Rasulullah bersabda,”diangkat pena (tidak dicatat amalnya) dari tiga orang, orang yang tidur hingga bangun, anak kecil hingga baligh, dan orang gila hingga berakal”.(HR. Abu daud dan At-tirmidzi dan dishohihkan Al-bany).

  • Berakal.

Orang yang tidak berakal tidak terbebani oleh syariat.

Sebagaiaman dalam hadist tersebut diatas.

  • Mampu.

Allah berfirman :

{وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (185) } [البقرة: 185، 186]

dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.

  • Muqim (tidak safar).

{شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ } [البقرة: 185]

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu,

Ibnu kastir berkta, ayat ini mewajibkan kepada siapa yang melihat hilal ramadhan disaat ia muqim dan dalam keadaan sehat badanya.

 عن أبي الدرداء قال:

خرجنا مع رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ في بعض غزواته في حَر شديد، حتى إن

أحدنا لَيَضَعُ يده على رأسه، أوكَفَّهُ على رأسه من شِدَةِ الحَر، ما فينا صائمٌ

إلا رسولُ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وعبدُ اللهِ بنُ رَوَاحةَ.

Dari abu darda berkata,”kami pernah keluar bersama Rasulullah, disebagian perang, diwaktu yang sangat panas, sampai ada salah seorang dari kami yang meletakkan tanganya diatas kepalanya atau telapak tanganya diatas kepalanya, tidak ada yang sanggub berpuasa diantara kami kecuali Rasulullah dan abdullah bin rawahah”.(HR. Abu daud dan dishahihkan Al-bany).

  • tidak ada penghalang.

Diantara penghalang puasa, adalah haidh dan nifas. Maka wanita yang sedang haidh dan nifas tidak wajib puasa.

Rasulullah bersabda tentang wanita,”

 أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تَصِلِّ وَلَمْ تَصُمْ

“tidakah jika haidh tidak shalat dan tidak puasa?”.(muttafaq alaihi).

Syarat-syarat sah puasa.

  1. islam.
  • Niat.

حفصة أن النبى صلى الله عليه وسلم قال: ” من لم يبيت الصيام من الليل فلا صيام له ” رواه أبو داود

Dari hafshah, bahwa Rasulullah bersabda,”barang siapa yang tidak meniatkan puasa dari malam hari, maka tidak ada puasa baginya”.(HR. Abu daud dan dishohihkan Al-bany).

  • tamyis.

Mampu membedakan antara yang hak dan batil.

  • Suci dari haidh dan nifas.

Rasulullah bersabda tentang wanita,”

 أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تَصِلِّ وَلَمْ تَصُمْ

“tidakah jika haidh tidak shalat dan tidak puasa?”.(muttafaq alaihi).

  • hari yang tidak terlarang untuk puasa.

Misal hari terlarang : hari id, hari tasyrik dll.

  • tidak terdapat hal-hal yang membatalkan puasa.

Misal : makan minum dengan sengaja, hubungan suami istri dll.

Refrensi :

  1. fiqih islamy wa idallatuhu.

Prof. Dr.wahbah Az-zuahaily.

Cet. 4 daarul fikri – Suria – Damaskus.

2. Mausuah al-fiqhi al-islamy.

Muhammad bin ibrohim at-taujiry.

Cet.1, baitul afkaar ad-dauliyah.

1430 H/ 2009 M.

3. Liqo al-baab al-maftuh.

Muhammad bin sholih Al-ustaimin.

Muhadharah-mudharah yang beliau sampaikan disetiap hari kamis dirumahnya. Dari wakhir syawal 1421 H berakhir kamis 14 safar 1421 H. ]

4. Sunan abu daud.

Abu daud sulaiman bn asyats as-sajastany.

Cet. 1, daarul risalah al-aalamiyah.

1430 H/ 2009 M.

About Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *